Minat guru dalam menulis masih sangat kecil. Hal ini terlihat dari jarangnya guru menelorkan karya-karya tulis yang dipublikasikan oleh media baik berupa artikel, laporan penelitian, maupun buku. Kalaupun ada, jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Dalam komunitas menulis sekalipun (biasanya di grup-grup WA), masih banyak guru yang belum memiliki karya yang terpublikasikan. Untuk mendukung fenomena ini saya mencontohkan kasus di Majalah Suara PGRI di Lumajang. Majalah ini diprioritaskan bagi guru yang ingin menulis dan jenis tulisanpun tidak dibatasi: bisa laporan, opini, cerpen, puisi dan sebagainya. Namun demikian, majalah milik PGRI ini selalu kekurangan artikel setiap bulannya.

Guru dan penulis adalah dua profesi yang bisa dikerjakan seseorang secara bersamaan. Guru memang memiliki tugas utama mendidik/mengajar sedangkan penulis bertugas untuk menyampaikan gagasan melalui tulisan. Tetapi, guru kan juga memiliki ide atau gagasan yang bisa ditulis. Dengan begitu gurupun juga bisa menjalani “profesi tambahan” sebagai penulis.

Guru memiliki cukup banyak bahan untuk ditulis dan itu jarang disadari. Sehari-hari guru selalu bergumul dengan dunia mengajar. Di sana guru mendapatkan banyak pengalaman yang layak diceritakan kepada orang lain. Cara bercerita selain dengan tatap muka langsung juga bisa melalui tulisan. Keuntungan cerita yang disampaikan melalui tulisan ini adalah tulisan akan memiliki lebih banyak audien. Karena setiap hari bergelut dengan dunia pendidikan, maka guru tidak akan kekurangan bahan. Sebaliknya para guru memiliki tumpukan materi untuk yang akan memudahkan mereka menulis.

Meskipun demikian, bagi guru yang masih belum bisa mengungkapkan pokok-pokok pikiran melalui tulisan, mereka perlu belajar. Caranya? Mereka perlu membaca karya-karya guru lain yang sudah dipublikasikan baik berupa buku, artikel di media massa, atau artikel yang tayang di blog-blog pendidikan. Dengan membaca karya teman guru lain, seorang guru akan mendapatkan gambaran atau inspirasi tentang apa yang akan ditulis. Kadangkala kita akan mendapati tulisan yang sangat berkualitas hanya dari topik-topik sepele, topik keseharian guru. Dengan begitu maka guru akan tergerak untuk menulis.

Agar upaya itu membawa hasil, maka guru harus mendedikasikan sedikit waktu setiap hari untuk secara khusus menulis. Membuat target dan disiplin memenuhi target tersebut akan mengarahkan guru ke keberhasilan menjadi penulis. Tidak perlu terlalu lama waktu yang akan didedikasikan yang terpenting adalah disiplin menjaga komitmen terhadap target yang ditentukan. Misalnya guru membuat target harian yaitu menyediakan waktu 15 menit untuk menulis atau target menulis setengah halaman setiap hari.  Aktifitas ini harus dilakukan secara ajeg. Walaupun tampak sepele, tapi saya yakin mereka akan menjadi penulis hebat.

Masalahnya, saat guru sanggup mendedikasikan waktu secara ajeg, ada hal yang mungkin agak menghambat guru menulis. Apa itu? Minimnya tema atau topik yang akan mereka angkat ke dalam tulisan. Untuk mengatasi hal ini, disamping sering membaca karya guru lain, guru harus berkontemplasi. Guru perlu memusatkan pikiran dan merenung dengan penuh perhatian. Diharpakan langkah ini dapat memunculkan ide-ide segar atau tema-tema tulisan yang menarik dan mudah ditulis.

Untuk tahap pembelajaran, guru tidak perlu menulis terlalu panjang. 300 kata mungkin cukup untuk menguraikan satu atau dua pokok pikiran. Dengan kata sejumlah ini membuat guru tidak merasa berat dan akan merasa menulis adalah hal yang ringan dan menyenangkan.

Tidak bisa dimungkiri bahwa ketika seseorang menulis atau berbicara, dia sesungguhnya ingin didengar atau dibaca gagasannya. Oleh karena itu penting menentukan dimana guru sebaiknya menulis. Banyak sekali media yang bisa dimanfaatkan guru dalam menulis agar tulisannya dibaca oleh orang lain seperti media sosial, media online, blog, majalah, surat kabar, dan buku. Tahap awal saat guru masih minim rasa percaya diri, mungkin tulisan cukup dibagikan kepada angota keluarga untuk kemudian minta umpan balik dari mereka. Selanjutnya bisa dibagikan ke teman-teman dekat melalui grup-grup WA misalnya. Dengan demikian lambat laun rasa percaya diri guru semakin terpupuk hingga akhirnya nanti mereka akan sangat yakin dan percaya diri dengan tulisan-tulisannya. Saat itulah mereka bisa menayangkan tulisan mereka di media sosial atau mengirimkannya ke media massa atau penerbit.

Saat guru yang berprestasi, guru yang baik, dan guru yang berhasil tidak mau menulis, maka hal ini sangat disayangkan. Tidak bermaksud untuk menyombongkan diri, jika guru menulis tentang keberhasilannya dalam mengajar, maka sesungguhnya hal itu akan menginspirasi guru-guru lain. Karya-karya seperti itu sangat ditunggu oleh rekan sejawat mereka. Maka, menulislah dan jadilah guru yang penulis.

Pasirian, 6 Februari 2021

Oleh: Bekti Sawiji (Mahasiswa Program Doktor UIN Maliki Malang)